sadarkah kita akan pesona dunia yang mulai memudarkan kecintaan kepada Allah SWT?
sadarkah kita yang sering mengabaikan perintahNya karena kesibukan dunia?
sadarkah kita telah banyak membuang waktu untuk perbuatan sia-sia demi kesenangan sesaat?
sadarkah kita yang sering merintis dosa tanpa rasa malu dihadapanNya?
padahal...
kita yakin kematian akan menjemput setiap jiwa yang hidup
kita yakin siksa kubur benar adanya
tapi mengapa hati ini sulit untuk bersujud dan menangis dihadapan Allah SWT dan berharap ampunanNya?
Jangan kita menangis hanya ketika duka duniawi menghampiri.
kasih sayang Allah SWT begitu luas
meskipun kita sering berdosa, Allah SWT tetap memberi petunjuk kepada kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita.
jika kita tidak memanfaatkan Rahmat Allah SWT tersebut, betapa ruginya kita.
oleh: Alif Tiny Ginti-XI IIPA 5 SMAN 1 Cikarang Utara
Sabtu, 21 Mei 2011
Selasa, 17 Mei 2011
ADIL TIDAK SELALU BIJAKSANA
Hudzaifah.org - Ada sebuah kisah tentang Raja Solomo. Ia dihadapkan dengan sebuah permasalahan yg dibuat dua orang wanita. Seorang bayi sedang diperebutkan dua orang ibu. Mereka masing-masing mengaku sebagai ibu kandung dari bayi tersebut. Hakim-hakim seluruh negri sudah menyerah dan kehilangan pegangan dalam memberikan keputusan. Maklumlah, saat itu belum ada teknologi tes DNA... =)
Raja bersungut-sungut, tapi tetap saja ia berpikir. Sejenak kemudian, tiba-tiba raja menghunus pedangnya dan berkata, "Kalau begitu, mari kita bikin keputusan yang adil! Aku akan membelah bayi ini menjadi dua bagian yang sama, sehingga kalian masing-masing akan memperoleh separuhnya!!"
Ibu gadungan berteriak kegirangan, "Hidup Raja Solomo yang adil!!" Sedangkan ibu kandung bayi itu langsung memucat wajahnya, lalu ia buru-buru bersimpuh di kaki sang raja dan memohon dgn pilu. "Ampun Tuanku baginda Raja, hamba ikhlaskan putra hamba diserahkan kepada ibu itu seluruhnya. Janganlah Tuanku memainkan pedang..."
Raja Solomo terharu dan tiba-tiba saja tertawa, "Ha...ha...ha..., aku sudah mendapatkan keputusan." Kedua ibu itu terbengong-bengong dan harap-harap cemas. "Aku tetapkan, kaulah wanita mulia, ibu kandung bayi ini!" Raja Solomo lalu menyerahkan sang bayi kepada ibu yang berlutut di hadapannya. Legalah sang ibu kandung itu...
Kisah inilah yang antara lain membuat Raja Solomo disebut sebagai raja yang bijaksana. Dari kisah itu pula kita bisa mengambil hikmah bahasa yang unik : makna kata adil sangat berbeda dengan makna kata bijaksana (apabila tidak dapat dikatakan bertolak belakang).
Kita bisa menguji kedua kata itu dengan contoh kasus yang lain. Kita memiliki kain selebar 10 m dan ingin membaginya menjadi dua bagian. Dikatakan adil jika masing-masing pihak mendapatkan kain selebar 5 m. Hanya saja, jika kedua orang itu berbeda fisiknya (katakanlah orang yang satu bertubuh gemuk sehingga kain 5 m tadi kurang untuk membuat sebuah baju untuknya, sedangkan orang yang satunya lagi bertubuh kurus sehingga kain tadi bersisa percuma) apakah tindakan membagi dua sama besar itu ADIL?!
Jelaslah bahwa keputusan yang adil tidak selalu bijaksana. Dalam hal pembagian kain diatas, biarlah kita tidak berbuat adil asalkan bijaksana. Seyogyanya kain tadi dibagi menjadi dua bagian dengan lebar 6 untuk si gemuk dan 4 m untuk si kurus. Dengan begitu keduanya bisa memperoleh baju tanpa ada yg kekurangan kain dan tanpa ada pula kain yg terbuang percuma.
Begitupun untuk semua pemimpin yg ada dineegri ini...
Bersikaplah bijaksana, tempatkanlah sesuatu hal pada tempatnya, dan berikanlah segala sesuatu menurut kebutuhannya, tidak kekurangan dan tidak pula berlebihan.
Rakyat mengharap keADILan yg BIJAKSANA...
Wallahu'alam bishowab
Raja bersungut-sungut, tapi tetap saja ia berpikir. Sejenak kemudian, tiba-tiba raja menghunus pedangnya dan berkata, "Kalau begitu, mari kita bikin keputusan yang adil! Aku akan membelah bayi ini menjadi dua bagian yang sama, sehingga kalian masing-masing akan memperoleh separuhnya!!"
Ibu gadungan berteriak kegirangan, "Hidup Raja Solomo yang adil!!" Sedangkan ibu kandung bayi itu langsung memucat wajahnya, lalu ia buru-buru bersimpuh di kaki sang raja dan memohon dgn pilu. "Ampun Tuanku baginda Raja, hamba ikhlaskan putra hamba diserahkan kepada ibu itu seluruhnya. Janganlah Tuanku memainkan pedang..."
Raja Solomo terharu dan tiba-tiba saja tertawa, "Ha...ha...ha..., aku sudah mendapatkan keputusan." Kedua ibu itu terbengong-bengong dan harap-harap cemas. "Aku tetapkan, kaulah wanita mulia, ibu kandung bayi ini!" Raja Solomo lalu menyerahkan sang bayi kepada ibu yang berlutut di hadapannya. Legalah sang ibu kandung itu...
Kisah inilah yang antara lain membuat Raja Solomo disebut sebagai raja yang bijaksana. Dari kisah itu pula kita bisa mengambil hikmah bahasa yang unik : makna kata adil sangat berbeda dengan makna kata bijaksana (apabila tidak dapat dikatakan bertolak belakang).
Kita bisa menguji kedua kata itu dengan contoh kasus yang lain. Kita memiliki kain selebar 10 m dan ingin membaginya menjadi dua bagian. Dikatakan adil jika masing-masing pihak mendapatkan kain selebar 5 m. Hanya saja, jika kedua orang itu berbeda fisiknya (katakanlah orang yang satu bertubuh gemuk sehingga kain 5 m tadi kurang untuk membuat sebuah baju untuknya, sedangkan orang yang satunya lagi bertubuh kurus sehingga kain tadi bersisa percuma) apakah tindakan membagi dua sama besar itu ADIL?!
Jelaslah bahwa keputusan yang adil tidak selalu bijaksana. Dalam hal pembagian kain diatas, biarlah kita tidak berbuat adil asalkan bijaksana. Seyogyanya kain tadi dibagi menjadi dua bagian dengan lebar 6 untuk si gemuk dan 4 m untuk si kurus. Dengan begitu keduanya bisa memperoleh baju tanpa ada yg kekurangan kain dan tanpa ada pula kain yg terbuang percuma.
Begitupun untuk semua pemimpin yg ada dineegri ini...
Bersikaplah bijaksana, tempatkanlah sesuatu hal pada tempatnya, dan berikanlah segala sesuatu menurut kebutuhannya, tidak kekurangan dan tidak pula berlebihan.
Rakyat mengharap keADILan yg BIJAKSANA...
Wallahu'alam bishowab
Senin, 16 Mei 2011
Seberapa Jauh...
Seberapa jauhkah kemampuan seorang pendaki untuk mendaki seven summits?
Seberapa jauhkah kemampuan NASA untuk menerbangkan roket-roket penelitiannya ke angkasa?
Seberapa jauhkah kemampuan Fir'aun untuk mengklain dirinya sebagai Tuhan?
Seberapa jauhakah kemampuan Nabi Musa untuk mendaki gunung Sinai untuk melihat zat Allah?
Seberapa jauhkah kemampuanmu untuk terus berjalan, berlari, sampai melompat untuk meraih sesuatu?
Seberapa jauhakah kemampuanmu untuk berkelana mengelilingi dunia?
Seberapa jauhkah kemamampuanmu untuk membuat orang-orang terkesima denganmu?
Renungkanlah...
Seberapa jauh kamu melangkah, berjalan, bahkan berlari di bumi cintaNya Allah
Seberapa jauh kamu menggapai cita-citamu
Seberapa jauh kamu menggapai nikmat duniawi
Semuanya hanya terasa sejenak,
Semuanya akan sirna,
Semuanya akan berlalu sama seperti kehidupan yang fana ini...
Semua akan berujung pada kesimpulan:
Semua yang kau capai tak ada apa-apanya dibandingkan Allah
Semua yang kau capai akan lenyap, karena kematian akan datang dimana pun kamu berada
Semua yang kau capai akan diperhitungkan dan mendapat ganjaran
Berbahagialah engkau yang telah mempersiapkan amal baik dari sisa-sisa hidupmu sekarang
Berbahagialah engkau yang telah mengikhlaskan semuanya kepada Allah
Karena semuanya akan bermuara pada KEMATIAN yang sudah ditakdirkan oleh Allah...
Ragamu akan berbaur dengan tanah, cacing, dan jasad renik lain...
Engkau sendiri di dalam kegelapan tak ada yang menyapa dan tak ada yang bisa disapa
Dan akhirnya engkau tahu...
Bahwa Allah adalah segala alasan dan landasan atas apa yang engkau capai selama ini
Seberapa jauhkah kemampuan NASA untuk menerbangkan roket-roket penelitiannya ke angkasa?
Seberapa jauhkah kemampuan Fir'aun untuk mengklain dirinya sebagai Tuhan?
Seberapa jauhakah kemampuan Nabi Musa untuk mendaki gunung Sinai untuk melihat zat Allah?
Seberapa jauhkah kemampuanmu untuk terus berjalan, berlari, sampai melompat untuk meraih sesuatu?
Seberapa jauhakah kemampuanmu untuk berkelana mengelilingi dunia?
Seberapa jauhkah kemamampuanmu untuk membuat orang-orang terkesima denganmu?
Renungkanlah...
Seberapa jauh kamu melangkah, berjalan, bahkan berlari di bumi cintaNya Allah
Seberapa jauh kamu menggapai cita-citamu
Seberapa jauh kamu menggapai nikmat duniawi
Semuanya hanya terasa sejenak,
Semuanya akan sirna,
Semuanya akan berlalu sama seperti kehidupan yang fana ini...
Semua akan berujung pada kesimpulan:
Semua yang kau capai tak ada apa-apanya dibandingkan Allah
Semua yang kau capai akan lenyap, karena kematian akan datang dimana pun kamu berada
Semua yang kau capai akan diperhitungkan dan mendapat ganjaran
Berbahagialah engkau yang telah mempersiapkan amal baik dari sisa-sisa hidupmu sekarang
Berbahagialah engkau yang telah mengikhlaskan semuanya kepada Allah
Karena semuanya akan bermuara pada KEMATIAN yang sudah ditakdirkan oleh Allah...
Ragamu akan berbaur dengan tanah, cacing, dan jasad renik lain...
Engkau sendiri di dalam kegelapan tak ada yang menyapa dan tak ada yang bisa disapa
Dan akhirnya engkau tahu...
Bahwa Allah adalah segala alasan dan landasan atas apa yang engkau capai selama ini
MEMBANGUN GENERASI MUDA ISLAM YANG BERPRESTASI TANPA GAGAP TEKNOLOGI
Sejarah peradaban Islam pada zaman dahulu kala telah mengalami zaman keemasannya, bahkan Islam bisa dibilang memimpin dunia. Ilmuwan-ilmuwan Barat yang sekarang ini lebih dikenal seperti Albert Einsten dengan teori relativitasnya, Isaac Newton dengan hokum gravitasinya, Archimedes dengan teori hokum hydrostaticnya dan masih banyak lagi. Sebenarnya, jauh sebelum penemu-penemu Barat tersebut menemukan sesuatu yang membangun peradaban dan iptek, ilmuwan muslim telah lebih dulu menemukan berbagai penemuannya dan diakui oleh dunia bahkan negara-negara barat pun mengadopsi ilmu-ilmu pengetahuan Islam.
Enam abad sebelum Christopher Columbus berlayar ke barat untuk membuktikan bumi itu bulat yang mendobrak keyakinan para pemuka Kristen, para ahli Matematika Muslim dari Kufa di Irak tidak hanya tahu bahwa planet berbentuk seperti bola, tetapi juga telah menghitung keliling lingkarannya dengan ketepatan mengagumkan. Tidak heran jika para pejuang perang salib yang melintasi Eropa hingga Tanah Suci untuk membebaskannya dari orang-orang Muslim, kembali ke tanah air dengan membawa banyak ilmu baru tentang peradaban, selain penemuan-penemuan praktis dan berbagai teori ilmu pengetahuan. Selain itu juga, tanpa sistem angka Arab, yang memasukkan bilangan decimal dan nol, ilmu pengetahuan dan bisnis tidak mungkin terwujud. Subhanallah sekali betapa majunya peradaban islam pada zaman dahulu!
Tetapi, seiring dengan kemajuan zaman, Islam yang dulunya sempat memainkan perannya di dunia Internasional, ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terkenal dengan penemuannya, kini seakan tenggelam. Mengapa demikian? Karena umat Muslim sekarang tidak mempunyai semangat untuk menuntut dan mempelajari ilmu yang didapatkan dari ilmuwan Muslim terdahulu. Hal tersebut merupakan faktor yang berasal dari dalam diri umat Muslim sendiri (faktor internal). Sedangkan factor eksternalnya adalah orang-orang non-Islam memanipulasi penemuan yang telah ditemukan olehIlmuwan Muslim dan mengakui penemuan itu adalah hasil pemikiran mereka. Contohnya Aljabar (IlmuhitungMatematika) yang ditemukan pertama kali oleh Al-Khawarizmi dan akhirnya ilmu tersebut diimpor ke Eropa dan seorang Matematikawan Italia bernama Fibonacci mengadopsi ilmu itu dan akhirnya dia bisa menemukan bilangan Fibonacci. Seperti yang kita tahu, nama Fibonacci lebih dikenal ketimbang Al-Khawarizmi, penemuawalAljabar.
Orang-orang sekarang ini bahkan muslim sekali pun banyak yang mengagung-agungkan para pemikir Barat dan mengadopsi pola piker ala Barat itu. Pola piker ala Barat yang sangat berpatokan pada ilmu pengetahuan terutama science, yang menjadi sebuah kebanggaan yang sangat besar bagi orang-orang Barat. Padahal, jika kita telaah lebih dalam, kita bisa mengatakan kalau orang-orang barat sekarang ini memang memimpin iptek. Tetapi, apapun yang mereka banggakan –science, penemuan teknologi tercanggih, pola pikir yang banyak diadopsi masyarakat dunia – seakan nilainya sama dengan nol. Mengapa seperti itu? Karena dengan science dan teknologi yang mereka punya sekarang ini, menjadikan mereka pribadi yang angkuh sehingga mereka tak mengenali jati dirinya sendiri. Karenajawabannyahanyalahsatu: kebanyakan dari mereka tidak mengenal penciptanya yaitu zat yang Maha Pencipta, Allah SWT. Dan mereka hidup bagaikan terombang-ambing tanpa sebuah pelindung dan tempat bergantung segala sesuatu yaitu Allah SWT.
Belajar dari hal-hal tersebut, marilah kita membangkitkan peradaban Islam ini seperti dulu saat islam memimpin dunia. Oleh karena itu, kita yang telah diberikan nikmat sehat, iman, dan islam harus bisa membangun peradaban islam dengan iptek yang positif menjadi yang lebih baik lagi tanpa harus terombang-ambing dengan iptek itu kerena semua dilandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena dengan ilmu, umat Muslim dapat menguasai alam seperti fimanNya dalam QS. Al-Anbiya : 79 dengan arti yang berbunyi : “Maka Kami memberikan peringatan kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya”. Maka dari itu, untuk membangun peradaban Islam ini, dibutuhkan ilmu. Ilmu-ilmu tersebut, haruslah dimiliki oleh generasi-generasi muda Islam yang selanjutnya berjuang meneruskan peradaban Islam yang jaya. Dan dengan ilmu pula akhirnya dapat menciptakan generasi muda Islam yang berprestasi, menguasai iptek, dan ber-imtaq.
Langganan:
Komentar (Atom)