Sejarah peradaban Islam pada zaman dahulu kala telah mengalami zaman keemasannya, bahkan Islam bisa dibilang memimpin dunia. Ilmuwan-ilmuwan Barat yang sekarang ini lebih dikenal seperti Albert Einsten dengan teori relativitasnya, Isaac Newton dengan hokum gravitasinya, Archimedes dengan teori hokum hydrostaticnya dan masih banyak lagi. Sebenarnya, jauh sebelum penemu-penemu Barat tersebut menemukan sesuatu yang membangun peradaban dan iptek, ilmuwan muslim telah lebih dulu menemukan berbagai penemuannya dan diakui oleh dunia bahkan negara-negara barat pun mengadopsi ilmu-ilmu pengetahuan Islam.
Enam abad sebelum Christopher Columbus berlayar ke barat untuk membuktikan bumi itu bulat yang mendobrak keyakinan para pemuka Kristen, para ahli Matematika Muslim dari Kufa di Irak tidak hanya tahu bahwa planet berbentuk seperti bola, tetapi juga telah menghitung keliling lingkarannya dengan ketepatan mengagumkan. Tidak heran jika para pejuang perang salib yang melintasi Eropa hingga Tanah Suci untuk membebaskannya dari orang-orang Muslim, kembali ke tanah air dengan membawa banyak ilmu baru tentang peradaban, selain penemuan-penemuan praktis dan berbagai teori ilmu pengetahuan. Selain itu juga, tanpa sistem angka Arab, yang memasukkan bilangan decimal dan nol, ilmu pengetahuan dan bisnis tidak mungkin terwujud. Subhanallah sekali betapa majunya peradaban islam pada zaman dahulu!
Tetapi, seiring dengan kemajuan zaman, Islam yang dulunya sempat memainkan perannya di dunia Internasional, ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terkenal dengan penemuannya, kini seakan tenggelam. Mengapa demikian? Karena umat Muslim sekarang tidak mempunyai semangat untuk menuntut dan mempelajari ilmu yang didapatkan dari ilmuwan Muslim terdahulu. Hal tersebut merupakan faktor yang berasal dari dalam diri umat Muslim sendiri (faktor internal). Sedangkan factor eksternalnya adalah orang-orang non-Islam memanipulasi penemuan yang telah ditemukan olehIlmuwan Muslim dan mengakui penemuan itu adalah hasil pemikiran mereka. Contohnya Aljabar (IlmuhitungMatematika) yang ditemukan pertama kali oleh Al-Khawarizmi dan akhirnya ilmu tersebut diimpor ke Eropa dan seorang Matematikawan Italia bernama Fibonacci mengadopsi ilmu itu dan akhirnya dia bisa menemukan bilangan Fibonacci. Seperti yang kita tahu, nama Fibonacci lebih dikenal ketimbang Al-Khawarizmi, penemuawalAljabar.
Orang-orang sekarang ini bahkan muslim sekali pun banyak yang mengagung-agungkan para pemikir Barat dan mengadopsi pola piker ala Barat itu. Pola piker ala Barat yang sangat berpatokan pada ilmu pengetahuan terutama science, yang menjadi sebuah kebanggaan yang sangat besar bagi orang-orang Barat. Padahal, jika kita telaah lebih dalam, kita bisa mengatakan kalau orang-orang barat sekarang ini memang memimpin iptek. Tetapi, apapun yang mereka banggakan –science, penemuan teknologi tercanggih, pola pikir yang banyak diadopsi masyarakat dunia – seakan nilainya sama dengan nol. Mengapa seperti itu? Karena dengan science dan teknologi yang mereka punya sekarang ini, menjadikan mereka pribadi yang angkuh sehingga mereka tak mengenali jati dirinya sendiri. Karenajawabannyahanyalahsatu: kebanyakan dari mereka tidak mengenal penciptanya yaitu zat yang Maha Pencipta, Allah SWT. Dan mereka hidup bagaikan terombang-ambing tanpa sebuah pelindung dan tempat bergantung segala sesuatu yaitu Allah SWT.
Belajar dari hal-hal tersebut, marilah kita membangkitkan peradaban Islam ini seperti dulu saat islam memimpin dunia. Oleh karena itu, kita yang telah diberikan nikmat sehat, iman, dan islam harus bisa membangun peradaban islam dengan iptek yang positif menjadi yang lebih baik lagi tanpa harus terombang-ambing dengan iptek itu kerena semua dilandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena dengan ilmu, umat Muslim dapat menguasai alam seperti fimanNya dalam QS. Al-Anbiya : 79 dengan arti yang berbunyi : “Maka Kami memberikan peringatan kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya”. Maka dari itu, untuk membangun peradaban Islam ini, dibutuhkan ilmu. Ilmu-ilmu tersebut, haruslah dimiliki oleh generasi-generasi muda Islam yang selanjutnya berjuang meneruskan peradaban Islam yang jaya. Dan dengan ilmu pula akhirnya dapat menciptakan generasi muda Islam yang berprestasi, menguasai iptek, dan ber-imtaq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar